Kamis, 19 September 2019

Rasa sesal


Rasa Sesal



Jika aku tahu takdir Tuhan berkata lain. Aku akan menarik semua kata kataku pada waktu itu. Tuhan sampaikanlah salam rinduku untuk dia. Jagalah dia seperti dia menjagaku waktu dulu. Nafas yang berhembus membuat rasa rindu ingin kembali ke masa lalu. Mendekap erat rasa rindu yang menggebu. Namun kini sudah menjadi butiran debu. Apalah dayaku kenangan itu menjadi bayangan semu.
"nak, bangun. Udah jam 6. Kamu harus sekolah" suara lembut dari dari balik pintu kamarku.
"iya bu. Ini udah bangun" ku ambil handuk menuju kamar mandi yang berada di dekat dapur. Berjalan yang masih sempoyongan dan mata belum membuka sempurna. Selesai beberes untuk perlengkapan sekolah aku langsung pamit pergi ke sekolah.
"nak, gak sarapan dulu?" tanya Ayah yang sudah duduk dimeja makan tak terlalu besar.
"gak perlu" jawabku ketus pada Ayah. Aku bersikap dingin, cuek, ketus itu semua gara gara Ayah. Jika waktu itu, Ayah tidak menyuruhnya pergi ke warung. Pasti malaikat tidak merenggut nyawanya.
"nak, dia ayahmu. Bicaralah dengan sopan" ibu tidak pernah memarahiku walaupun aku bersikap seperti ini. Ibu hanya menasehatiku dengan caranya sendiri.
"dia bukan Ayahku. Ayahku bukan seorang pembunuh" selesai berbicara aku langsung pergi begitu saja. Meninggalkan mereka berdua dirumah yang kecil tapi layak untuk ditempati. 
*
Disudut ruang sempit ada Ayah dan ibu sedang bercakap cakap.
"bu, gak usah dipaksakan jika anak kita belum bisa menerima takdir" suara yang mulai melemah. Tangannya mengusap tangan ibu sekedar menenangkan.
"tapi yah.."
"udahlah bu. Biar dia sadar sendiri"
Ibu hanya mengangguk pasrah atas apa yang diucapkan ayah. Sudah beberapa kali ibu menasehati dengan hal yang sama. Namun aku tak mendengarkannya sama sekali. Masuk lewat telinga kiri keluar telinga kanan. Tiba tiba...
"uhukk uhukk" ayah batuk mengeluarkan darah dari mulut. Terlihat kesakitan. Wajah yang keriput termakan usia kini menjadi pucat pasi. Tubuhnya melemah tapi berusaha tegar.  
"yah. Ibu khawatir. Kita ke dokter ya" 
Mereka bersiap siap untuk pergi ke dokter. Tak lupa mengunci pintu rumah dan berjalan mencari angkot yang lewat. Brukk... ayah pingsan ditengah jalan. Ibu menangis tersedu melihat ayah tersungkur dijalan. Warga yang melihat segera berdatangan dan menolongnya. Salah satu warga menghentikan mobil pick up yang terlintas dijalan. Tubuh ayah digotong oleh warga, ibu ikut membuntuti dibelakangnya. 
Tangan ibu bergetar memegang tangan ayah, beberapa warga ikut mencoba menenangkan. Seolah olah berkata ayah pasti baik baik saja.
*
Hari sudah semakin sore. Melihat jingga membelai langit diujung cakrawala. Kini kutahu mengapa senja datang kembali meski dia diusir ribuan kali. Pukul empat sore, aku baru pulang dari sekolah karena ada kegiatan les tambahan untuk kelas XII. Berusaha belajar dengan giat tak lupa dengan doa mengiringi. Menjadi seorang arsitek adalah sebuah cita cita besarku. Membangun rumah dengan desain hasil karya sendiri adalah impianku.
"assalamualaikum ibu... ibu.. aku pulang" hening tanpa jawaban. gak biasanya rumah jam segini sepi. Sepertinya sekarang tak ada orang dirumah. Aku pergi kekamar, tidak ada. Didapur, nihil. Kemana mereka? Langkahku menuju keluar rumah.
"lho. Nak nisya, nggak pergi ke Rumah Sakit?" tanya bu Narsih yang kebetulan tetangga rumah. 
"rumah sakit? Siapa yang sakit bu?" tanyaku dengan perasaan campur aduk. Khawatir, gelisah, heran bercampur menjadi satu.
"tadi Ayahmu pingsan dijalan" jawab bu Narsih. 
Haaaa... ayah pingsan? Aku masuk ke kamar mengambil tas kecil. Buru buru mengunci pintu. Berlari keluar rumah menuju tukang ojek pengkolan. Sampai depan Rumah Sakit, langkah begitu kilat menghampiri resepsionis Rumah Sakit. Ku tanyakan nama Ayah, apakah benar yang dibilang bu Narsih tadi? Ternyata benar.
Aku sudah didepan ruangan dimana ayah berada. Meraba gagang pintu, lalu kulepaskan kembali. Hati ini tak kuat melihat tabung oksigen yang membantu nafas ayah. Namun ingatan ingatan masa lalu mampu menguasai pikiranku sehingga tak bisa dipungkiri bahwa aku masih benci ayah. Air mata yang sejak tadi kubendung kini telah jatuh. Terasa sesak.
Masih berdiri didepan ruangan, kemudian aku duduk. Pikiranku kalang kabut tak karuan. Ingin rasanya aku mendekap tubuh ayah sekarang juga. Namun lagi lagi rasa benci mampu menguasai emosiku. Terdengar suara pintu membuka, seseorang menghampiri menepuk pundak dan memelukku. aku membalas pelukan itu dan terisak. 
"ayah sudah sadar nak, sekarang temui ayahmu. Udah jangan nangis lagi, nanti ayah sedih" tangan lembut itu mengusap sisa air mataku. Kepalaku mengganguk dan masuk ke ruangan dimana ayah dirawat. 
*
"sini nak, ayah mau bicara sama kamu" kata ayah yang masih terbaring lemah. senyuman itu tak pernah pudar dari sudut bibirnya. Langkahku pelan pasti menuju ayah. Apa yang harus kulakukan? Perasaanku canggung. Sudah berapa lama tidak berhadapan seperti ini? rasa rindu menyelimuti diriku.
'Alhamdulillah oksigennya sudah dilepas' ucapku dalam hati.
"Maafkan ayah ya, gara gara ayah kamu gak bisa bermain sama kakak kamu. Andai saat itu ayah gak memaksa Hisyam beli gula diwarung, pasti Hisyam masih hidup bersama kamu" aku termenung mendengar ucapan ayah. Tidak hanya aku yang merasa kehilangan, tapi semua yang kenal kak Hisyam pasti merasa kehilangan. Air mata jatuh dipipi ayah, namun berhasil diucap cepat oleh ayah.
"semua itu takdir Tuhan nak, ada tidak adanya kecelakaan itu, kalau takdir kak Hisyam pergi jauh kita tak bisa mengelaknya lagi nak. Umur tak bisa mengukur takdirnya seseorang"
Jlebb... benar kata ayah. Semua itu takdir Tuhan. Takdir yang tak dapat ditebak oleh siapapun. Takdir yang tak bisa diubah oleh apapun. Aku terlalu naif untuk itu. Langsung kudekap tubuh ayah. Aku rindu dekapan hangatnya. Rindu semua tentang ayah. Bagaimana rasa egois dapat menguasaiku? Bagaimana aku tak sadar dengan hal itu?
"aku minta maaf ayah. Aku anak yang durhaka sama ayah" terisak dalam pelukannya. Tangan ayah membelai rambutku pelan. Dibalik pintu ada Ibu tersenyum kami sudah baikan. 
"Maafkan ayah yang selalu bikin hidup kamu susah. Ayah belum bisa membahagiakan kamu nak. Belajar yang rajin biar jadi arsitek. Jaga ibu baik baik. Jangan sakiti dia ya nak. Ayah sayang kalian semua"
"aku sayang ayah" 
Hening tanpa suara. Belaiannya sudah tidak terasa lagi.
"ayah.. ayah bangun.. dokter... dokterr" aku menekan tombol darurat. Aku takut kehilangan orang yang aku sayang untuk kedua kalinya.
*
Dua gundukan tanah kini tepat didepan mataku. Kutaburi bunga mawar indah untuk mereka yang kusayangi. Penyesalan memang datang diakhir. Tidak ada gunanya kita menyesali sesuatu yang sudah terjadi. Masih terngiang pesan Ibu waktu memelukku didepan ruangan ayah dirawat 'jangan kehilangan dulu baru menyesal, Sebab tidak semua sesal itu mampu mengembalikan'. Maafkan aku yang terlalu menuntut sampai lupa bersyukur. Aku sayang kalian semua.